Selasa, 29 April 2014


PRANATA MANGSA

Pranata Mangsa atau aturan waktu musim biasanya digunakan oleh para petani pedesaan, yang didasarkan pada gejala naluriah alam dan mencoba memahami  asal-usul dan bagaimana uraian satu-satu kejadian cuaca di dalam setahun. Petani di Jawa dahulu  masih memakai  patokan untuk mengolah pertanian dengan prantan ini. Uraian mengenai Pranata Mangsa ini diambil dari buku sejarah para raja di Surakarta, yang tersimpan di musium Radya-Pustaka.
          Yang menurut riwayatnya, sebetulnya baru mulai dikenalkan pada tahun 1856, saat kerajaan Surakarta diperintah oleh Pakoeboewono VII, yang memberi patokan bagi para petani agar mempunyai hasil panen yang baik dalam bertani, tepatnya dimulai tanggal 22 Juni 1856, dengan urut-urutan:
          Kasa, mulai 22 Juni, berusia 41 hari. Para petani membakar dami yang tertinggal di sawah dan di masa ini dimulai menanam palawija, sejenis belalang masuk ke tanah, daun-daunan berjatuhan. Penampakannya/ibaratnya: lir sotya (dedaunan) murca saka ngembanan (kayu-kayuan).
          Karo, mulai 2 Agustus, berusia 23 hari. Palawija mulai tumbuh, pohon randu dan mangga, tanah mulai retak/berlubang. Penampakannya/ibaratnya: bantala (tanah) rengka (retak).
          Katiga, mulai 25 Agustus, berusia 24 hari. Musimnya/waktunya lahan tidak ditanami, sebab panas sekali, yang mana Palawija mulai di panen, berbagai jenis bambu tumbuh. Penampakannya/ibaratnya : suta (anak) manut ing Bapa (lanjaran).
          Kapat, mulai 19 September, berusia 25 hari. Sawah tidak ada (jarang) tanaman, sebab musim kemarau, para petani mulai menggarap sawah untuk ditanami padi gaga, pohon kapuk mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bertelur. Penampakannya/ibaratnya: waspa kumembeng jroning kalbu (sumber).
          Kalima, mulai 14 Oktober, berusia 27 hari. Mulai ada hujan, selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga, pohon asem mulai tumbuh daun muda, ulat-ulat mulai keluar. Penampakannya/ibaratnya: pancuran (hujan) emas sumawur (hujannya)ing jagad.
          Kanem, mulai 10 Nopember, berusia 43 hari. Para petani mulai menyebar bibit tanaman padi di pembenihan, banyak buah-buahan (durian, rambutan, manggis dan lain-lainnya), burung blibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair. Penampakannya/ibaratnya: rasa mulya kasucian (sedang banyak-banyaknya buah-buahan).
          Kapitu, mulai 23 Desember, usianya 43 hari. Benih padi mulai ditanam di sawah, banyak hujan, banyak sungai yang banjir. Penampakannya/ibaratnya: wisa kentar ing ing maruta (bisa larut dengan angin, itu masanya banyak penyakit).
          Kawolu, mulai 4 Pebruari, usianya 26 hari, atau 4 tahun sekali 27 hari. Padi mulai hijau, uret mulai banyak. Penampakannya/ibaratnya: anjrah jroning kayun (merata dalam keinginan, musimnya kucing kawin).
          Kasanga, mulai 1 Maret, usianya 25 hari. Padi mulai berkembang dan sebagian sudah berbuah, jangkrik mulai muncul, kucing mulai kawin, cenggeret mulai bersuara. Penampakannya/ibaratnya: wedaring wacara mulya (binatang tanah dan pohon mulai bersuara).
          Kasepuluh, mulai 26 Maret, usianya 24 hari. Padi mulai menguning, mulai panen, banyak hewan hamil, burung-burung kecil mulai menetas telurnya. Penampakannya/ibaratnya: gedong minep jroning kalbu (masa hewan sedang hamil).
     Desta, mulai 19 April, berusia 23 hari. Seluruhnya memanen padi. Penampakannya/ibaratnya: sotya (anak burung) sinara wedi (disuapi makanan).
          Saya, mulai 12 Mei, berusia 41 hari. Para petani mulai menjemur padi dan memasukkan ke lumbung. Di sawah hanya tersisa dami. Penampakannya/ibaratnya: tirta (keringat) sah saking sasana (badan) (air pergi dari sumbernya, masa ini musim dingin, jarang orang berkeringat, sebab sangat dingin).
          Demikian uraian singkat tentang Pranata Mangsa, yang jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, hal tersebut diatas tentunya harus diselaraskan secara ilmiah, kondisi alam, kemajuan teknologi pengindraan satelit cuaca, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar